Singkawang — Suasana pagi yang sejuk di halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Singkawang pada Jumat, 6 Maret 2026, terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.00 WIB, seluruh murid, guru, dan tenaga kependidikan telah berkumpul untuk mengikuti kegiatan Literasi Ramadan bersama Kampung Dongeng Kota Singkawang dengan tema “Ramadan sebagai Momentum Penguatan Iman, Akhlak, dan Kepedulian Sosial.”

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari program penguatan karakter religius selama bulan suci Ramadan. Melalui pendekatan literasi berbasis cerita dan dongeng, para peserta diajak untuk merenungkan nilai-nilai keimanan, kejujuran, serta pentingnya ketulusan dalam beribadah.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Ega Tyas Kusumastuti dari Kampung Dongeng Kota Singkawang. Dengan gaya bertutur yang hangat dan komunikatif, ia berhasil menarik perhatian seluruh peserta sejak awal kegiatan. Dalam penyampaiannya, Ega tidak datang sendirian. Ia membawa sebuah boneka tangan (muppet) bernama “Mala”, yang menjadi teman berdongeng sekaligus media interaktif untuk menyampaikan pesan moral kepada para murid.

Melalui dialog ringan dan humor yang segar antara Ega dan Mala, suasana kegiatan menjadi hidup dan penuh antusias. Para murid tampak terlibat aktif, tertawa, sekaligus larut dalam alur cerita yang disampaikan.

Dongeng yang dibawakan mengisahkan tentang dua sahabat bernama Mansur dan Sabil. Sejak kecil, keduanya dikenal sebagai anak yang rajin beribadah dan sering terlihat saling berlomba dalam melakukan kebaikan. Bagi orang-orang di sekitar mereka, kedua sahabat ini menjadi teladan karena semangatnya dalam menjalankan ajaran agama.

Namun, ketika mereka telah beranjak dewasa dan memiliki keluarga masing-masing, sebuah kenyataan yang mengejutkan terungkap. Suatu hari, Sabil jatuh sakit keras. Dalam perjalanan hidupnya, ternyata ia selama ini hanya berpura-pura taat dalam beribadah. Apa yang dilakukan di hadapan orang lain hanyalah upaya untuk mendapatkan pujian dan penghormatan dari masyarakat.

Di balik penampilan religiusnya, ketika tidak berada dalam pengawasan orang lain, Sabil justru melakukan berbagai perbuatan buruk seperti mabuk, berjudi, dan tindakan tercela lainnya. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah yang sejati harus dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah, bukan sekadar untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Melalui cerita tersebut, para murid diajak untuk memahami bahwa keimanan tidak hanya tampak dari perilaku di depan orang lain, tetapi juga dari sikap ketika tidak ada yang melihat. Kejujuran hati, keikhlasan, dan konsistensi dalam berbuat baik menjadi pesan utama yang ingin disampaikan.

Kegiatan literasi Ramadan ini juga menekankan bahwa bulan suci Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki akhlak serta menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama.

Dengan metode dongeng yang kreatif dan menyentuh, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai moral secara lebih mendalam kepada para murid. Selain menambah wawasan literasi, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran karakter yang menyenangkan dan bermakna.

Melalui kegiatan seperti ini, MTsN Singkawang terus berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas murid. Ramadan pun menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat iman, memperindah akhlak, serta menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama.